Pernahkah Merindukan Diri Kalian Yang Dahulu?

Aku jadi teringat perkataan guruku, kala aku mencoba untuk bunuh diri pertama kalinya.

"Ini bukan, Nayla! Nayla yang Ibu kenal bukan seperti ini! Nayla yang Ibu kenal itu kuat!"

Seketika aku menyadari setelah dikatakan begitu, bahwa aku tak pernah sama seperti yang dahulu lagi. Bahwa Iffah yang dulu, sudah pergi.

Iffah yang dulu, sudah pergi.

Dan sulit untuk memanggilnya kembali.

Iffah yang naif, selalu punya berjuta mimpi yang ingin dicapai.

Iffah yang optimis, yang bisa menyingkirkan segala rintangan dengan cemerlang.

Iffah yang selalu dapat berpikir positif, meski hal yang paling buruk menimpa dirinya.

Iffah yang mampu berjuang sendiri.

Iffah yang penuh percaya diri dan tawa.

Iffah yang bertekad ingin membuktikan bahwa dirinya lebih dari yang orang lain sangka.

Iffah yang seperti itu, semua sudah pergi.

Dan aku kesulitan untuk memanggilnya kembali dalam hidupku.

Aku kesulitan memanggilnya kembali dalam hidupku...
1

Resume Psikologi: Pendidikan Anak Pra-Sekolah

A.      PENDIDIKAN ANAK PRA-SEKOLAH

Pendidikan anak pra sekolah  adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

1.       Tujuan:
a.       Mengembangkan tingkat kecerdasan dan mental baik secara fisik dan rohani
b.      Membentuk karakter anak agar bisa mengatur perasaan emosi serta punya jiwa sosial yang tinggi
c.       Ketika mereka masuk pada tingkat pendidikan dasar pertama, anak-anak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan lebih mandiri

2.       Jenis:
a.       Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
b.      Taman Kanak-kanak
c.       Playgroup

3.       Beberapa Hal Yang Tidak Tepat Pada Pendidikan Anak Pra-Sekolah:
a.       Anak dituntut agar bisa membaca dan menulis sebelum memasuki bangku sekolah dasar (SD):
Anak-anak yang seharusnya ditekankan pada program "bermain sambil belajar", saat ini malah dibebani tugas-tugas menulis dan membaca yang sebenarnya kurang sesuai untuk perkembangannya. Anak seharusnya ditanamkan "stigma" bahwa sekolah itu menyenangkan saat ini malah jarang sekali ada anak yang menyukai sekolah. Pembelajaran membaca dan menghitung lebih baik diberikan jika anak memang menyukai untuk belajar hal tersebut atau ketika sudah memiliki kesiapan untuk belajar membaca dan menulis.

b.      Fasilitas lembaga PAPS yang tidak memadai atau kurang kondusif:
Banyak PAPS di Indonesia yang kurang memperhatikan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk mendukung pembelajaran anak dan ruang belajar anak yang masih kurang kondusif. Anak pada usia PAPS adalah masa di mana anak sangat suka bereksplorasi dan mengembangkan kemampuan motoriknya, sehingga anak cenderung lasak pada masa ini.
0

Resume Psikologi: Pedagogi dan Andragogi

A.      PEDAGOGI DAN ANDRAGOGI

Pedagogi adalah teori balajar yang dikembangkan untuk kebutuhan anak-anak. Sedangkan andragogi adalah teori belajar yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan orang dewasa.


1.       Perbedaan:

Pedagogi
Andragogi
Pembelajar disebut “siswa”/ “anak didik”
Pembelajar disebut “peserta didik”/ “warga didik”
Gaya belajar dependen
Gaya belajar independen
Tujuan ditentukan sebelumnya
Tujuan fleksibel
Metode pelatihan pasif, seperti metode ceramah.
Menggunakan metode pelatihan aktif
Guru mengontrol waktu dan kecepatan
Pembelajaran mempengaruhi waktu dan kecepatan
Belajar berpusat pada isu atau pengetahuan teoritis, hanya mengandalkan satu sumber
Belajar berpusat pada masalah kehidupan nyata, memahami bahwa banyak sumber dari ilmu
0

Resume Psikologi: Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

A.      PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Anak Berkebutuhan Khusus dapat diartikan sebagai seorang anak yang memerlukan pendidikan yang disesuaikan dengan hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing individual.

1.        Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus
a.       Kelainan Mental:
-          Kelainan mental tinggi (anak-anak dengan IQ di atas rata-rata)
-          Kelainan mental rendah (anak-anak dengan IQ di bawah rata-rata)
-          Kesulitan belajar spesifik

b.      Kelainan Fisik:
-          Tunadaksa
-          Tunanetra
-          Tunarungu
-          Kelainan Wicara

c.       Kelainan Emosi dan Perilaku:
-          Gangguan Emosi dan Perilaku (Tunalaras)
-          Gangguan Konsentrasi (ADD)
-          Gangguan Hiperaktif (ADHD)

d.      Tunaganda (mengalami dua jenis kebutuhan khusus sekaligus).

2.       Faktor-faktor Timbulnya Kebutuhan Khusus
a.       Internal  => Kondisi yang dimiliki anak yang bersangkutan.
b.      Eksternal => Sesuatu yang berada di luar diri anak yang menjadikan hambatan perkembangan dan pembelajaran pada anak.
c.       Kombinasi faktor internal maupun eksternal

3.       Bentuk Layanan Pendidikan:
a.       Sekolah Luar Biasa:
-          SLB-A: Tunanetra
-          SLB-B: Tunarungu
-          SLB-C: Tunagrahita
-          SLB-D: Tunadaksa
-          SLB-E: Tunalaras
-          SLB-G: Tunaganda

b.      Sekolah Luar Berasrama
c.       Kelas Jauh/ Kelas Kunjung
d.      Sekolah Dasar Luar Biasa
e.      Sekolah Inklusi


0

Hidup Yang Tak Adil... Mau Berubah Atau Tidak?





Ini salah satu ayat yang sering dibacakan sama Ayahku ketika berpergian, apalagi ketika aku sedang dalam masalah berat.

Pada awalnya, aku bertanya-tanya, 'Kenapa? Kenapa harus kita sendiri yang mengubahnya? Kenapa bukan Tuhan? Apa dia gak mau ikut campur tangan? Bukannya dia Tuhan? Dengan sekejap saja bukannya Dia bisa membuat kehidupan hamba-Nya jadi lebih baik?'

Dan aku baru tahu alasan di balik ayat itu setelah masuk ke psikologi,

"Kita gak bisa memaksa seseorang yang tidak mau berubah, untuk berubah."

Itu yang kerap kali dosenku bilang.

Kita gak bisa memaksa seseorang untuk mengubah perilakunya, kalau pada dasarnya orang tersebut memang gak mau berubah, toh, dia merasa gak ada yang salah dengan dirinya, jadi apanya yang mau diubah dari dirinya?

Karena percuma saja orang itu diberikan terapi, atau treatment, atau berbagai nasihat, toh, dianya sendiri juga gak mau berubah.

Sama seperti dokter, aku pernah dimarahi sama dokter gegara minum obat secara gak teratur, dan perkataannya bikin aku benar-benar nyelekit di hati:

"Kamu mau sembuh, nggak? Kalau mau saya kasih kamu obat dan kamu harus minum itu secara teratur. Kalau gak mau, meding kamu gak usah saya berikan obat. Buat apa saya capai-capai memberikan kamu obat kalau kamunya sendiri gak mau sembuh? Tapi kalau kamu memang mau sembuh, saya akan bantu kamu dengan memberikan obat, dan itu harus diminum secara teratur. "
Ya, memang, dunia ini benar-benar kejam dan tidak adil. Ada saja masalah yang rasanya membuat kita ingin menyerah dan menghilang saja dari dunia ini. Tapi! Tapi! Allah SWT itu benar-benar baik, baik sekali.

Kuberi tahu kalian bahwasannya Allah adalah penulis terbaik sealam semesta ini. Ya, yang paling terbaik. Aku adalah seorang penulis, yang kalau sudah menggerakkan suatu alur cerita dalam tulisanku, alur tersebut harus bergerak sesuai dengan yang apa aku tulis, tidak boleh berubah. Kalau aku sudah menetapkan karakter utamanya akan mati, maka dia harus mati. Kalau aku menetapkan sad ending, maka itu harus sad ending. Titik.

Alur yang kutetapkan, harus bergerak sesuai arahanku.

Penulis mana yang mengizinkan seseorang untuk mengubah alur ceritanya? Pasti dia bakal kesal jika seseorang mengacak-acak alur kisah yang dia buat. Benar, kan?

Tapi ternyata ada.

Dan dia bernama Allah SWT.

Allah membuat sebuah karya tulis berupa buku yang disebut Luh Mahfuz. Ini adalah buku terhebat. Kenapa? Karena di dalamnya terdapat cerita apapun yang ada di alam semesta ini. Apapun. Dari yang terkecil seperti semut berenang di lautan, sampai yang terbesar kiamat. Bahkan, mungkin kalau kamu gak sengaja menduduki semut kecil pun tercantum di situ. Termasuk kisah tentang kamu.

Bila kamu merasa kisahmu tidak adil, tidak seperti yang kamu harapkan, Allah memberikan kamu kesempatan untuk mengubahnya sendiri,

Ini seumpama, Allah mengatakan,

"Hm, kenapa? Gak suka sama alur yang sudah saya buat? Ya, sudah, ini saya berikan pena, kamu yang mengubah kisahmu sendiri."

Yup, kira-kira begitu.

Dia adalah penulis terhebat yang memperbolehkan karakter ciptaan-Nya sendiri untuk mengubah alur yang sudah dia buat. Penulis mana yang bisa seperti ini? Bukan fanfiksi, tapi benar-benar mengubah alur pada buku utamanya?

Tapi, tapi itu semua akan percuma jikalau kamu memang tidak mau berubah.Allah sudah memberikan kamu kesempatan untuk mengubah kisah kehidupanmu jikalau kamu merasa alur yang ditulis-Nya tidak sesuai keinginanmu, tapi kamu sendiri malah menyerah, tidak mau berjuang sama sekali untuk berubah.

Buat apa Dia capai-capai memberikan banyak ilham padamu, memberikan petunjuk, memberikan mimpi-mimpi kalau pada dasarnya kamu sendiri memang tidak mau berubah?
Hanya kamu sendiri yang bisa memutuskan apakah kamu ingin mengubah hidupmu atau tidak, bukan orang lain, bukan juga Tuhan.

Tapi, kalau kamu mau berubah, maka Allah akan membantumu. Kalau kamu mau sembuh, maka dokter akan memberikan kamu obat.

Sekarang camkan ini baik-baik,

Kamu merasa hidupmu tidak adil? Merasa hidupmu tidak sesuai harapan? Merasa alur hidupmu terlalu berat untuk dijalankan dan ingin mengubahnya?
Kalau begitu, pikirkanlah baik-baik,
Kamu mau berubah?
Kalau iya, bangkitlah dan pegang pena yang diberikan Allah untuk mengubah kisahmu!
0

Derita Anak Psikologi

          Ada yang bilang, kalau jadi anak psikologi mesti sengklek dahulu. Ini dimaksudkan, supaya kita lebih memahami orang-orang dengan gangguan mental, maka kita juga harus ikut punya gangguan mental. Kok, malah kayak kutukan gitu? Gak, gak, itu gak benar. Anak psikologi masih waras, kok.

            Iya...

            Waras...

            “JOEL, BADAN GUE! BADAN GUE MIRING, WOI!”

            Dan kali ini, sekumpulan anak psikologi sedang mengadakan eksperimen terhadap salah satu kendaraan dinamakan motor (?). Yup, mereka memberikan perlakuan yang berbeda kepada itu motor spesial. Bukan satu motor dua orang, tapi empat.

            Satu di depan, adalah cecurut dengan tinggi seuprit, makanya dia muat nyempil di depan stang. Yang kedua, si tukang yang bikin kamu tobat sampai rumah kalau ngelihat tingkahnya, dan dialah si dalang nista yang lagi ngendarain motornya. Orang ketiga duduknya miring, dialah yang sedang berdzikir mendoakan keselamatan motor—coret—jantungnya, gegara posisinya yang paling berbahaya. Dan orang keempat, malah doyan berteriak.

            “KAJOEL! MOTORNYA! BERHENTIIN DULU!”

“KAJOEL! KAJOOOOOOOOEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEL!”

            “Apa sih, lu? Teriak terus dari tadi?”

            “KELINGKING GUE KELINDES BAN, KUPLUUUUK!”

            Lha, ya salahmu gonceng empat.

            
0

Apa dan Siapa di Ambang Batas Kesadaran?

Apa yang kurang darimu, Nak?
Yang kurang adalah bahwa kau berbeda
Bahwa kau sekarang, mungkin, berada di ambang batas alam kesadaran
Bahwa kau bukan putih juga bukan hitam
Bahwa kau percaya atau juga tidak
Bahwa kau baik atau kau jahat
Bahwa kau periang atau juga emosional

Hidup...
Terkadang kau berpikir...
Mengapa dahulu kau meminta untuk diciptakan sebagai manusia?
Jikalau tahu bahwa gilanya akan seperti ini?
Mengapa tidak meminta untuk menjadi binatang tanah saja?
Setidaknya itu lebih mulia...

Ah, ya... itu hanya pemikiran buntu
Di saat kau menyerah untuk menjadi manusia

 Dan sekarang kau,
layaknya di tepi jembatan gantung penuh tantangan
Mau ke kiri? Atau ke kanan?
Mau yang hitam? Atau yang putih?
Orang bilang putih lebih baik
Orang bilang bahwa padi pun juga ada yang membusuk meski kau sudah menabur pupuknya dengan baik...

 Aku tidak percaya,
Banyak alasan sebuah tanaman bisa tak mencapai kesuburan
Kalau kau tak bisa temukan apa sebab,
kau takkan bisa jadi petani yang hebat...

Dan sekarang kau bertanya-tanya
Apa maksud dari semua tulisanku?
Ah... Sayang Ini hanya tentang seorang gadis, yang mungkin terganggu...
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com